Selasa, 29 Januari 2019
Tips Menggambar mudah untuk anak-anak
Assalamualaikum wr,wb
Hallo guys pada postingan kali ini saya akan berbagi tutorial belajar mengambar untuk anak-anak. Menggambar dan mewarnai adalah kegiatan yang menyenangkan bagi
anak-anak. Lewat menggambar, mereka bisa menuangkan beragam imajinasi
yang ada di kepala mereka guys.
nah langsung aja liat vidio yang ada dibawah ini yaa...
Selasa, 22 Januari 2019
Hallo guys kali ini saya akan berbagi cara melipat baju denga cepat.Bagi sebagian orang melipat kaos atau kemeja merupakan kegiatan yang
sangat merepotkan. Meskipun melipat kaos dan kemeja merupakan kegiatan
yang sederhana dan mudah untuk dilakukan namun tetap saja ada beberapa
orang yang merasa kesulitan sehingga hasil lipatan tidak menjadi rapi.
Nah langsung aja deh tonton nih video
Dibuang sayang
Hallo guys pada kesempatan kali ini saya akan berbagi ilmu cara membuat bunga dari botol plastik bekas.
Nah jadi barang-barang bekas dirumah jangan dibuang guys kita olah menjad kerajinan tangan.Ayo guys langsung aja kita siapkan Bahan-Bahannya.
Bahan-Bahan
*Botol Minuman
*Kawat kecil
*Cutte
*Gunting
*Cat kayu
*Kuas Lukis
Cara membuat langsung aja ya ditonton videonya.
Bahan-Bahan
*Botol Minuman
*Kawat kecil
*Cutte
*Gunting
*Cat kayu
*Kuas Lukis
Cara membuat langsung aja ya ditonton videonya.
Selasa, 15 Januari 2019
SEJARAH PULAU PENYEGAT
SEJARAH PULAU PENYEGAT
Pulau Penyengat (atau Pulau Penyengat
Inderasakti dalam sebutan sumber-sumber sejarah) adalah sebuah pulau kecil di Kota Tanjungpinang, Kepulauan
Riau, yang berjarak kurang lebih 2 km dari pusat kota. Pulau ini
berukuran panjang 2.000 meter dan lebar 850 meter, berjarak lebih kurang
35 km dari Pulau Batam. Pulau ini dapat ditempuh dari pusat Kota
Tanjung Pinang dengan menggunakan perahu bermotor atau lebih dikenal pompong
yang memerlukan waktu tempuh kurang lebih 15 menit.[1]
Pulau Penyengat merupakan salah satu objek wisata
di Kepulauan
Riau. Di pulau ini terdapat berbagai peninggalan bersejarah yang di
antaranya adalah Masjid Raya Sultan Riau yang terbuat dari putih telur,
makam-makam para raja, makam dari pahlawan nasional Raja
Ali Haji, kompleks Istana Kantor dan benteng pertahanan di Bukit Kursi.
Sejak tanggal 19 Oktober 1995, Pulau penyengat dan kompleks istana di Pulau Penyengat
telah dicalonkan ke UNESCO untuk dijadikan salah satu Situs Warisan Dunia.[2]
#Sejarah
Peta Pulau Penyengat di papan kedatangan
Menurut cerita, pulau mungil di muara Sungai Riau, Pulau
Bintan ini sudah lama dikenal oleh para pelaut sejak berabad-abad yang lalu
karena menjadi tempat persinggahan untuk mengambil air tawar
yang cukup banyak tersedia di pulau ini. Belum terdapat catatan tertulis
tentang asal mula nama pulau ini. Namun, dari cerita rakyat setempat, nama ini
berasal dari nama hewan sebangsa serangga yang
mempunyai sengat. Menurut cerita
tersebut, ada para pelaut yang melanggar pantang-larang
ketika mengambil air, maka mereka diserang oleh ratusan serangga berbisa.
Binatang ini yang kemudian dipanggil Penyengat dan pulau
tersebut dipanggil dengan Pulau Penyengat. Sementara orang-orang
Belanda menyebut pulau tersebut dengan nama Pulau Mars.[1][3]
Tatkala
pusat pemerintahan Kerajaan Riau bertempat di pulau itu ditambah
menjadi Pulau Penyengat Inderasakti. Pada 1803, Pulau Penyengat
telah dibangun dari sebuah pusat pertahanan menjadi negeri dan kemudian
berkedudukan Yang Dipertuan Muda Kerajaan
Riau-Lingga sementara Sultan berkediaman resmi di Daik-Lingga. Pada tahun 1900, Sultan
Riau-Lingga pindah ke Pulau Penyengat. Sejak itu lengkaplah peran Pulau
Penyengat sebagai pusat pemerintahan, adat istiadat, agama Islam dan kebudayaan Melayu.[3]
Imperium Melayu
Pulau
Penyengat merupakan pulau yang bersejarah dan memiliki kedudukan yang penting
dalam peristiwan jatuh bangunnya Imperium Melayu, yang sebelum
terdiri dari wilayah Kesultanan Johor, Pahang,
Siak
dan Lingga, khususnya di bagian selatan dari Semenanjung Melayu. Peran penting tersebut
berlangsung selama 120 tahun, sejak berdirinya Kerajaan Riau di tahun 1722, sampai akhirnya
diambil alih sepenuhnya oleh Belanda pada 1911.[1]
Perang Saudara tahta Johor
Awalnya
pulau ini hanya sebuah tempat persinggahan armada-armada pelayaran yang
melayari perairan Pulau Bintan, Selat
Malaka dan sekitarnya. Namun pada tahun 1719 ketika meletus perang
saudara memperebutkan tahta Kesultanan
Johor antara keturunan Sultan Mahmud Syah
yang dipimpin putranya Raja Kecil melawan keturunan Sultan Abdul
Jalil Riayatsyah yang dipimpin Tengku Sulaiman.[1]
Pulau
Penyengat mulai dijadikan kubu pertahanan oleh Raja Kecil
yang memindahkan pusat pemerintahannya dari Kota Tinggi (Johor) ke Riau di
Hulu Sungai Carang (Pulau Bintan). Perang saudara itu dimenangkan oleh
Tengku Sulaiman dan saudaranya yang dibantu oleh lima orang bangsawan Bugis Luwu,
yaitu Daeng Perani, Daeng
Marewah, Daeng Chelak, Daeng Kemasi dan Daeng
Menambun. Yang mana seterusnya Tengku Sulaiman mendirikan kerajaan baru
yaitu Kerajaan Johor-Riau-Lingga, pada 4 Oktober 1722.[1]
Sedangkan Raja Kecil menyingkir ke Siak dan seterusnya mendirikan Kesultanan
Siak.
Yang Dipertuan Muda Riau
Pada
masa Kerajaan Johor-Riau-Lingga, Pulau Penyengat tetap berperan sebagai pusat
pertahanan sekaligus tempat kediaman dan pusat pemerintahan dari Yang Dipertuan
Muda Johor-Pahang-Riau-Lingga. Di kerajaan Riau-Lingga terdapat dua posisi
jabatan utama, yaitu Yang Dipertuan Besar atau Sultan yang berkedudukan di
Daik, Lingga dan Yang Dipertuan Muda yang berkedudukan di Pulau Penyengat.
Walaupun lebih rendah kedudukan Yang Dipertuan Muda, tetapi dia mengatur
pemerintahan, angkatan perang, perekonomian dan masalah-masalah operasional
lainnya.[1]
#Bangunan Bersejarah
Masjid Raya Sultan Riau
Masjid
ini awalnya dibangun oleh Sultan Mahmud pada tahun 1803. Kemudian pada masa
pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman, tahun 1832 masjid ini
direnovasi dalam bentuk yang terlihat saat ini. Bangunan utama masjid ini
berukuran 18 x 20 meter yang ditopang oleh 4 buah tiang beton. Di keempat sudut
bangunan, terdapat menara tempat Bilal mengumandangkan adzan. Pada bangunan
Masjid Sultan Riau terdpat 13 kubah yang berbentuk seperti bawang. Jumlah
keseluruhan menara dan kubah di Masjid Sultan Riau sebanyak 17 buah yang
melambangkan jumlah rakaat salat wajib lima waktu sehari semalam.
Di
sisi kiri dan kanan bagian depan masjid terpdat bangunan tambahan yang disebut
dengan Rumah Sotoh (tempat pertemuan). Menurut sejarahnya, masjid ini dibangun
dengan menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir dan tanah liat.
Mushaf al-Quran
Terdapat
dua buah al-Quran tulisan tangan yang tersimpan di dalam Masjid Sultan Riau
Pulau Penyengat. Salah satu yang diperlihatkan kepada pengunjung adalah hasil
goresan tangan Abdurrahman Stambul, seorang penduduk Pulau Penyengat yang
dikirim oleh Kerajaan Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu Agama Islam,
sekembalinya dari belajar dia menjadi guru dan terkenal dengan "khat"
gaya Istambul. Al-Quran ini diselesaikan pada tahun 1867 sambil mengajar.
Keistimewaan al-Quran Mushaf Abdurrahman Stambul ini adalah banyaknya
penggunaan "Ya Busra" serta beberapa rumah huruf yang titiknya sengaja
disamarkan sehingga membacanya cenderung berdasarkan interpretasi individu
sesuai akal dan ilmunya.
Istana Kantor
Istana
Kantor adalah istana dari Yang Dipertuan Muda Riau VIII Raja Ali (1844-1857),
atau juga yang disebut dengan Marhum Kantor. Selain digunakan sebagai kediaman,
bangunan yang dibangun pada tahun 1844 ini juga difungsikan sebagai kantor oleh
Raja Ali.
Istana
Kantor berukuran sekitar 110 m2 dan menempati areal sekitar satu hektar yang
seluruhnya dikelilingi tembok. Bangunan dan puing yang masih ada memperlihatkan
kemegahannya pada masa lalu.
Balai Adat Melayu
Balai
Adat Pulau Penyengat adalah replika rumah adat Melayu yang pernah ada di Pulau
Penyengat. Bangunan Balai Adat merupakan rumah panggung khas Melayu yang
terbuat dari kayu. Balai Adat difungsikan untuk menyambut tamu atau mengadakan
perjamuan bagi orang-orang penting.
Di
dalam gedung, kita dapat melihat tata ruang dan beberapa benda perlengkapan
adat resam Melayu, serta berbagai perlengkapan atraksi kesenian yang digunakan
untuk menjamu tamu-tamu tertentu.
Di
bagian bawah Balai Adat ini terdapat sumur air tawar yang konon sudah berabad
lamanya dan sampai sekarang airnya masih mengalir dan dapat langsung diminum.
Monumen Bahasa Melayu
Pada
tanggal 19
Agustus 2013,
telah diletakkan batu pertama pembangunan Monumen Bahasa Melayu di areal
dalam bekas Benteng Kursi, Pulau Penyengat, oleh Gubernur Kepulauan Riau, HM
Sani. Pembangunan monumen ini merupakan wujud penghormatan dan penghargaan
Pemerintah Provinsi Kepri terhadap jasa-jasa Raja
Ali Haji sebagai pahlawan nasional di bidang bahasa.
Selain itu juga untuk lebih mengenalkan tentang asal dan arti bahasa
Melayu yang dipakai di Kepulauan
Riau dan Lingga,
serta bahasa Indonesia yang digunakan saat ini.[4]
Monumen
Bahasa Melayu dibangun sebagai tindak lanjut dari dari mufakat 12 kebudayaan
Melayu antara Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri dan LAM Provinsi Riau pada
saat seminar nasional bahasa Indonesia di Pekanbaru, Riau, 2010 lalu, yang
dihadiri masing-masing gubernur.[4]
BUDI DAYA POHON SAGU
1
Teknik
Budidaya Tanaman Sagu
Nama
Lain dari Tanaman Sagu
Sagu (Metroxylon sp.) di duga
berasal dari Maluku dan Irian. Hingga saat ini
belum ada data yangmengungkapkan sejak kapan awal mula sagu ini
dikenal. Di wilayah Indonesia bagian Timur, sagu sejak lama
dipergunakan sebagai makanan pokok oleh sebagian penduduknya terutama di Maluku
dan Irian Jaya. Teknologi eksploitasi, budidaya dan pengolahan tanaman
sagu yang paling maju saat ini adalah di Malaysia.
Tanaman Sagu dikenal
dengan nama Kirai di Jawa Barat, bulung, kresula,
bulu, rembulung, atau resula di Jawa Tengah; lapia
atau napia di Ambon; tumba di
Gorontalo; Pogalu atau tabaro di
Toraja; rambiam atau rabi di kepulauan Aru.Tanaman
sagu masuk dalam Ordo Spadicflorae, Famili Palmae. Di
kawasanIndo Pasifik terdapat 5 marga (genus) Palmae yang zat
tepungnya telah dimanfaatkan, yaitu Metroxylon, Arenga, Corypha,
Euqeissona, dan Caryota.Genus yang banyak dikenal adalah
Metroxylon dan Arenga, karena kandungan acinya cukup tinggi.
Sagu dari genus
Metroxylon, secara garis besar digolongkan menjadi dua, yaitu : yang berbunga
atau berbuah dua kali (Pleonanthic) dan berbunga atau berbuah sekali
(Hapaxanthic) yang mempunyai nilai ekonomis penting, karena kandungan
karbohidratnya lebih banyak. Golongan ini terdiri dari 5 varietas
penting yaitu :
1.
Metroxylon
sagus,Rottbol atau sagu molat
2.
Metroxylon
rumphii, Martius atau sagu Tuni.
3.
Metroxylon
rumphii, Martius varietas
Sylvestre Martius atau sagu ihur
4.
Metroxylon
rumphii,Martius varietas
Longispinum Martius atau sagu Makanaru
5.
Metroxylon
rumphii,Martius varietas
Microcanthum Martius atau sagu Rotan
#Syarat Tumbuh
Jumlah curah hujan yang
optimal bagi pertumbuhan sagu antara 2.000 – 4.000 mm/tahun, yang tersebar
merata sepanjang tahun. Sagu dapat tumbuh sampai pada ketinggian 700 m di atas
permukaan laut (dpl), namun produksi sagu terbaik ditemukan sampai ketinggian
400 m dpl. Suhu optimal untuk pertumbuhan sagu berkisar antara 24,50 – 29oC
dan suhu minimal 15oC, dengan kelembaban nisbi 90%. Sagu dapat
tumbuh baik di daerah 100 LS - 150 LU dan 90 –
180 darajat BT, yang menerima energi cahaya matahari sepanjang tahun. Sagu
dapat ditanam di daerah dengan kelembaban nisbi udara 40%. Kelembaban yang
optimal untuk pertumbuhannya adalah 60%.
Tanaman sagu
membutuhkan air yang cukup, namun penggenangan permanen dapat
mengganggu pertumbuhan sagu. Sagu tumbuh di daerah rawa yang berair tawar atau
daerah rawa yang bergambut dan di daerah sepanjang aliran sungai, sekitar
sumber air, atau di hutan rawa yang kadar garamnya tidak terlalu tinggi dan
tanah mineral di rawa-rawa air tawar dengan kandungan tanah liat > 70% dan
bahan organik 30%. Pertumbuhan sagu yang paling baik adalah pada tanah liat
kuning coklat atau hitam dengan kadar bahan organik tinggi. Sagu dapat tumbuh
pada tanah vulkanik, latosol, andosol, podsolik merah kuning, alluvial,
hidromorfik kelabu dan tipe-tipe tanah lainnya. Sagu mampu tumbuh pada lahan
yang memiliki keasaman tinggi. Pertumbuhan yang paling baik terjadi pada tanah
yang kadar bahan organiknya tinggi dan bereaksi sedikit asam pH 5,5 – 6,5.
Sagu paling baik bila
ditanam pada tanah yang mempunyai pengaruh pasang surut, terutama bila air
pasang tersebut merupakan air segar. Lingkungan yang paling baik untuk
pertumbuhannya adalah daerah yang berlumpur, dimana akar nafas tidak terendam.
Pertumbuhan sagu juga dipengaruhi oleh adanya unsur hara yang disuplai dari air
tawar, terutama potasium, fosfat, kalsium, dan magnesium.
Pengertian mengenai
hutan sagu adalah hutan yang didominasi oleh tanaman sagu. Selain sagu, masih bnyak
tanaman lain yang ditemukan dalam kawasan tersebut. Selain itu, dalam satu
hamparan hutan sagu tidak hanya tumbuh satu jenis sagu, tetapi terdapat beragam
jenis sagu dan struktur tanaman.
1.Teknologi
Perbanyakan tanaman sagu
Teknologi perbanyakan
tanaman sagu dapat dilakuan dengan metode generatif dan vegetatif. Secara
generatif yaitu dengan menggunakan biji yang berasal dari buah yang sudah tua
dan rontok dari pohonnya. Biji yang digunakan adalah biji yang berasal dari
pohon induk yang baik, yang subur dan produksinya tinggi.
Perbanyakan tanaman sagu
secara vegetatif dapat dilakukan dengan menggunakan bibit berupa anakan yang
melekat pada pangkal batang induknya yang disebut dangkel atau abut (jangan
yang berasal dari stolon).
1.
Persemaian
dan Pembibitan
D.1. Persyaratan Benih
atau Bibit
Syarat bibit untuk
pembibitan cara generatif adalah biji yang digunakan sudah tua, tidak
cacat fisik, besarnya rata-rata dan bertunas. Syarat bibit untuk
pembibitan cara vegetatif adalah berasal dari tunas atau anakan yang
umurnya kurang dari 1 tahun, dengan diameter 10-13 cm dan berat 2-3 kg. Tinggi
anakan +1 meter dan punya pucuk daun 3-4 lembar.
D.2. Penyiapan Benih
atau Bibit
a). Cara generatif
Biji yang digunakan
berasal dari buah yang sudah tua dan jatuh/rontok dari pohon induk yang baik,
yaitu subur dan produksinya tinggi, tumbuh pada lahan yang wajar serta produksi
klon rata-rata tinggi. Biji/buah yang diambil tersebut adalah buah yang tidak
cacat fisik, besarnya rata-rata, dan bernas.
b). Cara Vegetatif
Pembiakan secara
vegatatif dapat dilakukan dengan menggunakan bibit berupa anakan yang melekat
pada pangkal batang induknya. Adapun cara pengadaan adalah sebagai berikut :
1.
Pengambilan dengkel
dipilih yang terletak di permukaan atas.
2.
Pemotongan dilakukan di
sisi kiri dan kanan sedalam 30 cm, tanpa membuang akar serabutnya.
3.
Dangkel yang telah
dipotong, dibersihkan dari daun-daun dan ditempatkan pada tempat yang mendapat
cahaya matahari langsung dengan bagian permukaan belahan tepat pada tempat di
mana cahaya matahari jatuh, selama 1 jam.
4.
Luka bekas irisan
dangkel yang msih tertanam segera dilumuri dengan zat penutup luka (seperti :
TB-1982 atau Acid Free Coalteer) untuk mencegah hama dan penyakit.
5.
Bibit sagu direndam
dalam air aerobic selama 3-4 minggu. Setelah itu bibit ditanam.
6.
Penyiapan dangkel
sebaiknya dilakukan pada waktu menjelang sore hari, kemudian pada
sore hari dangkel dikumpulkan dan pada waktu malam hari diangkut ke lahan,
untuk menghindari kerusakan dangkel oleh cahaya matahari.
D.3. Teknik Penyemaian
Benih
a) Cara generatif :
Secara generatif
penyemaian benih tanaman sagu dapat dilakukan dengan cara perkecambahan tidak
langsung, penyiapan media, penataan bibit dan pembibitan, sebagai berikut.
1. Perkecambahan tak
langsung
·
Penyiapan media : Wadah
atau bak dari bata atau bambu berukuran tinggi 30-40 cm, panjang tidak lebih
dari 2 meter dan lebar 1,2 – 1,5 cm. Selanjutnya sepertiga bagian
bawah diisi pasir dan atasnya serbuk gergaji basah.
·
Penataan Bibit : bibit
ditata dengan jarak 10 x 10 cm; 10 x 15 cm; atau 15 x 15 cm dengan posisi
miring atau tegak, bagian lembaga diletakkan di bawah, ¾ bagian bibit ditekan
dalam serbuk gergaji. Kelembaban media dijaga antara 80-90%. Setelah umur 1-2
bulan dan sudah berdaun 2-3 lembar, bibit dipindah ke bedeng pembibitan.
2. Pembibitan
(Perkecambahan tak langsung di media pembibitan)
·
Penyiapan media : Tanah
diolah sedalam 45-60 cm, digemburkan dan ditambah pupuk dasar. Ukuran bedeng
tinggi 30 cm; lebar 1,25 m; dan panjang + 8-10 dengan jarak antar
bedengan 30-50 cm.
·
Pengaturan pembibitan
tanpa penjarangan : Bibit ditanam dengan jarak 25 x 25cm sampai dengan 40 x 40
cm. Pengaturan pembibitan dengan penjarangan : Pada mulanya bibit ditanam
dengan jarak rapat, yaitu 12,5 x 12,5 cm; 15 x 15 cm; atau 20 x 20 cm.
D.4. Pemeliharaan
Penyemaian
Cara generatif dengan
penjarangan :
1.
Dilakukan setelah satu
bulan, yaitu menjadi 25 x 25 cm; atau 40 x 40 cm.
2.
Selama masa penyemaian
kelembaban dipertahankan 80 – 90 %
3.
Diberi naungan agar
tidak kena cahaya matahari langsung.
4.
Peyiraman dilakukan
setiap saat.
D.5. Pemindahan Bibit
a). Cara generatif :
Bibit yang berumur 6 -12
bulan dapat dipindahkan atau ditanam. Cara pengangkatannya ke kebun atau tempat
penanaman mudah dan murah.
b). Cara Vegetatif
Setelah diambil dapat
langsung ditanam.
1.
Pengolahan
Media Tanam
2.
Persiapan
Lahan dipilih yang
sesuai dengan ketentuan. Menurut kebiasaan petani sagu Riau dan Maluku,
penanaman sagu dilakukan pada awal musim hujan.
1.
Pembukaan Lahan
Lahan dibersihkan dari
semua vegetasi di bawah diameter 30 cm dekat permukaan tanah dan semua pohon
yang tinggal. Vegetasi bawah dan ranting – ranting kecil tersebut dibakar dan
abunya untuk pupuk. Pokok – pokok batang yang besar, yang sulit penggaliannya
dapat ditinggalkan begitu saja di lahan, kecuali pokok – pokok yang berada pada
calon baris tanaman harus dibersihkan.
1.
Pembentukan bedengan
Dilakukan untuk
penanaman dengan cara blok (biasanya dilakukan perusahaan perkebunan sagu).
Adapun tata cara pembangunan blok adalah:
1.
Ukuran blok 400 x 400 m,
jadi satu blok luasnya 16 ha. Biasanya di tengah – tengah blok
dibangun kanal tersier.
2.
Kanal yang harus
dibangun ada 3 macam, yaitu : kanal utama, kanal sekunder, dan kanal tersier.
3.
Kanal utama adalah kanal
yang digali tegak lurus terhadap sungai, dibangun di setiap dua blok kebun
sagu, jaraknya dari kanal utama satu dengan yang lain adalah 800 m. Fungsinya
sebagai pengaliran air dari sungai ke dalam blok – blok sagu, dan sebagai jalur
transportasi utama dari kebun ke sungai dan sebaliknya, serta untuk penyanggah
pengaruh air pasang. Kanal utama ini lebarnya 2,5 m.
4.
Kanal sekunder adalah
kanal yang digali tegak lurus terhadap kanal utama (melintang pada blok dan
kanal utama). Kanal ini berfungsi sebagai pembatas antara empat blok sagu
disebelahnya; sebagai jalur transportasi sagu dari kebun dan atau kanal tersier
ke kanal utama. Lebar kanal sekunder adalah 2 m.
5.
Kanal tersier adalah
kanal yang digali pada pertengahan blok atau di antara dua blok atau melintangi
di antara blok – blok yang saling berseberangan dan sebagai jalur transportasi
dari kebun sagu bagian dalam, ke sungai atau kanal utama, atau ke kanal
sekunder atau juga ke kanal tersier melintang dan sebaliknya. Lebar kanal
tersier adalah 1,5 m.
6.
Saluran drainase lebarnya
0,75 – 1,00 m.
7.
Lain - lain
Menentukan sistem dan
alat transportasi, karena lahan penanaman sagu didominasi oleh lahan yang
berupa rawa dan lahan pantai yang sering dipengaruhi pasang surut. Lahan
sebagian merupakan daerah berair, maka infrastruktur harus terdiri atas sistem
kanal sebagai pengganti jalan darat.
1.
Penanaman
dan Penyulaman
2.
Penentuan Pola tanam
Penanaman dengan sistem
blok adalah jarak tanam atau jarak lubang antar bervariasi antara
8-10 meter, sehingga satu hektar hanya menampung + 150
buah. Jarak tanam yang dianggap ideal adalah :
1.
Sagu Tuni 8 x 8 atau 9 x
9 m, hubungan segitiga sama sisi, sehingga 1 hektar akan memuat 143 tanaman.
2.
Sagu Ihur 9 x 9 m,
hubungan segitiga sama sisi, sehingga 1 hektar akan memuat 143 tanaman.
3.
Sagu Molat 7 x 7,
hubungan segi empat, sehingga 1 hektar akan memuat 2043 tanaman
4.
Jika ketiga varietas
ditanam secara bersama – sama, maka ditanam secara terpisah menurut blok.
5.
Pembuatan Lubang tanam
Lubang tanam digali
sebulan/selambat-lambatnya 1 minggu sebelum penanaman dengan ukuran lubang
30x30x30 cm. Hasil galian tanah bagian atas dipisahkan dari tanah lapisan bawah
dan dibiarkan beberapa hari. Pada lubang tanaman itu ditempatkan pancang –
pancang bambu, tiap lubang 2 pacang.
1.
Cara Penanaman
Cara penanaman dilakukan
dengan membenamkan dangkel ke dalam lubang tanaman. Bagian pangkal dangkel
ditutup dengan tanah remah bercampur gambut. Tanah penutup jangan ditekan tapi
dangkel jangan sampai bergerak. Tanah lapisan atas dimasukkan sampai separuh
lubang apabila mungkin di campur puing – puing. Akar – akar dibenamkan pada
tanah penutup lubang dan pangkalnya agak ditekan sedikit ke dalam tanah.
1.
Penyiangan
(pengendalian gulma)
Penyiangan dilakukan
terhadap gulma dan dilakukan pada sagu muda (3 – 4 tahun), sebab rawan terhadap
serangan hama. Gulma juga akan memperbesar peluang kebun dilanda kebakaran.
Proses penyiangan dapat dilakukan dengan menggunakan tangan, sabit, parang,
cangkul dan sebagainya. Hasil dari penyiangan dipendam/dikomposkan. Bila gulma
mengandung hama/vektor dan kayu, dibakar dan abunya dijadikan pupuk.
1.
Pengendalian
Hama dan Penyakit
Pada tanaman sagu
terdapat hama dan penyakit yang dapat mengurangi hasil panen. Beberapa jenis
hama dan penyakit adalah sebagai berikut.
Hama
a. Kumbang (Oryctes
rhinoceros sp.)
Gejala dari serangan
hama ini adalah terdapat lubang pada pucuk daun bekas gerekan kumbang, setelah
berkembang tampak terpotong seperti di gunting dalam bentuk segitiga.
Pengendalian dapat dilakukan secara mekanis dan bilogis. Pengendalian secara
mekanis adalah dengan cara pohon – pohon sagu yang mendapat serangan ditebang
dan dibakar. Pengendalian secara biologis dapat dengan menggunakan musuh alami.
b. Kumbang sagu (Rhynchophorus sp)
Ciri dari serangan hama
ini adalah, serangan sekunder setelah kumbang oryctes biasanya meletakkan telur
di luka bekas oryctes. Bila serangan terjadi pada titik tumbuh dapat
menyebabkan kematian pohon. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara mekanik
dan biologis.
c. Ulat daun Artona (Artona
catoxantha, Hamps. Atau Brachartona catoxantha)
Ulat daun selain merusak
daun pada sagu, juga menyerang pada daging buah, ulat daun ini menyerang
jaringan dalam daun. Pengendalian pada ulat daun dapat dilakukan secara mekanik
dan biologis.
d. Babi hutan
Binatang ini merusak
sagu tingkat semai dan sapihan (umur 1-3 tahun), memakan umbut (pucuk batang
yang masih muda). Pengendalian hama binatang ini adalah dengan cara memburu dan
membunuhnya agar populasi terkendali.
e. Kera (Macaca irus)
Binatang ini mempunyai
potensi untuk merusak bagian sagu muda dan selalu merusak lebih banyak daripada
yang dibutuhkan. Pengendalian untuk binatang ini sama dengan pengendalian
binatang babi hutan.
Penyakit
Penyakit yang biasanya
terdapat pada tanaman sagu adalah bercak kuning yang disebabkan oleh
cendawan Cercospora. Gejala dari penyakit ini adalah daun
berbercak – bercak coklat.
1.
Pemupukan
Unsur hara yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman sagu, antara lain kalsium, kalium dan
magnesium. Pada hutan sagu liar, pemeliharaan tanaman berupa pemupukan jarang
dilakukan. Berbeda dengan hutan budidaya sagu yang mengejar produktivitas yang
optimal, maka akan dilakukan pemupukan. Beberapa jenis pupuk dan dosis
pemupukan disajikan pada Tabel 65.
1.
Panen
Ciri
dan umur panen
Panen dapat dilakukan
umur 6 -7 tahun, atau bila ujung batang mulai membengkak disusul keluarnya
selubung bunga dan pelepah daun berwarna putih terutama pada bagian luarnya.
Tinggi pohon 10 – 15 m, diameter 60 – 70 cm, tebal kulit luar 10 cm, dan tebal
batang yang mengandung sagu 50 – 60 cm. Ciri pohon sagu siap panen pada umumnya
dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada daun, duri, pucuk dan batang.
Cara penentuan pohon sagu yang siap panen di Maluku adalah sebagai berikut :
1.
Tingkat Wela/putus duri,
yaitu suatu fase dimana sebagian duri pada pelepah daun telah lenyap.
Kematangannya belum sempurna dan kandungan acinya masih rendah, tetapi dalam
keadaan terpaksa pohon ini dapat di panen.
2.
Tingkat Maputih, ditandai
dengan menguningnya pelepah daun, duri yang terdapat pada pelepah daun hampir
seluruhnya lenyap, kecuali pada bagian pangkal pelepah masih tertinggal
sedikit. Daun muda yang terbentuk ukurannya semakin pandek dan kecil. Pada
tingkat ini sagu jenis Metroxylon rumphii Martius sudah siap
dipanen, karena kandungan acinya sangat tinggi.
3.
Tingkat Maputih
masa/masa jantung, yaitu fase dimana semua pelepah daun telah menguning dan
kuncup bunga mulai muncul. Kandungan acinya telah padat mulai dari pangkal batang
sampai ujung batang merupakan fase yang tepat untuk panen sagu ihur (Metroxylon
sylvester Martius)
4.
Tingkat siri buah,
merupakan tingkat kematangan terakhir, di mana kuncup bunga sagu telah mekar
dan bercabang menyerupai tanduk rusa dan buahnya mulai terbentuk. Fase ini
merupakan saat yang paling tepat untuk memanen sagu jenis Metroxylon
longisipium Martius
Cara
Panen
Langkah-langkah
pemanenan sagu adalah sebagai berikut :
1.
Pembersihan untuk
membuat jalan masuk ke rumpun dan pembersihan batang yang akan di potong untuk
memudahkan penebangan dan pengangkutan hasil tebangan.
2.
Sagu dipotong sedekat
mungkin dengan akarnya. Pemotongan menggunakan kampak/mesin pemotong (gergaji
mesin).
3.
Batang dibersihkan dari
pelepah dan sebagian ujung batangnya karena acinya rendah, sehingga tinggal
gelondongan batang sagu sepanjang 6 – 15 meter. Gelondongan dipotong – potong
menjadi 1-2 meter untuk memudahkan pengangkutan. Berat 1 gelondongan
adalah + 120 kg dengan diameter 45 cm dan tebal kulit 3,1 cm.
Langganan:
Postingan (Atom)



